Ide berseliweran saat saya hendak tuliskan materi ini. 

 Pada satu sisi,  hal macam ini yang membuat hidup saya terus  berenergi. Gagasan yang  menari-nari dalam pikiran saya terus menggoda saya untuk mentranfomasikannya menjadi karya.

Namun kali ini saya akan menatanya sebaik yang saya mampu lakukan hari ini, saat ini. Tidak semata melemparkannya secara telanjang ke hadapan Anda.

Untuk beberapa orang, pola liar macam itu  membantu mereka mendapatkan energi yang saya rasakan. Untuk sebagian lainnya, saya khawatir, hanya akan membuat mereka mabok, bingung dan tersesat !

Tidak mudah untuk saya mengkerangkeng ide yang menggedor-gedor dinding kepala saya. But again, let’s see

Salah satu fokus tulisan ini adalah tentang keseimbangan.

Mengapa keseimbangan yang dibahas ? Ada apa dengan dia ? By the way, apa sebenarnya keseimbangan yang dimaksud di sini ? Bukankah ia sudah jadi bahasan klise ? Untuk apa lagi dibahas ? Akan kemana nantinya arah ini semua ?

Itu hanya sebagian kecil pertanyaan yang terlontar saat saya membuat tulisan ini. Jangan heran, mengajukan pertanyaan macam di atas bermanfaat untuk memfokuskan tulisan. Agar tulisan saya hanya membahas yang saya tanyakan. Dengan begitu, elaborasinya tidak kemana-mana. 

Paling tidak, cara ini berlaku untuk saya.

Namun, ya itu tadi :  tergantung kepada jenis pertanyaan yang diajukan. Salah bertanya, maka konsekuensinya akan mengantar pada jawaban yang membuat tersesat.

Bagi saya, hari ini, saat ini, keseimbangan adalah kesejatian. Ia sesuatu yang ada sebagai sebuah prinsip. Ia diciptakan justru untuk menata semesta  berada pada keseimbangan tertingginya. 

Keseimbangan  pada titik ini menjadi semacam prinsip, hukum alam, layaknya gravitasi. Tak ada yang bisa membantah, saat benda dilempar ke atas, maka akan jatuh ke bumi.  Maka prinsip ekulibrium adalah niscaya. Air bergerak dari tempat yang tinggi  ke tempat yang lebih rendah, bermuara ke lautan. Udara berpindah dari yang bertekanan tinggi ke tempat bertekanan rendah. Dan seterusnya

Untuk yang suka buku karya Stephen Covey, keseimbangan bisa jadi layaknya mercusuar. Ia pemberi terang di tengah lautan. Menuntun kapal yang mungkin nyaris  tersesat.

Dalam konteks kali ini, keseimbangan saya tempatkan dalam kerangka manusia di tengah kesehariannya. Keseimbangan yang perlu diadakan dalam hubungan manusia dengan aktivitas kehidupannya. Yang paling sering dibahas dan kemudian menjadi topik yang seksi adalah soal life-work balance, keseimbangan antara dunia kerja dan aspek kehidupan lainnya.

Dengan begitu, ia antara lain bicara keseimbangan subyektif. Subyektivitas manusia inilah yang kemudian membuat warna-warni keseimbangan menjadi beraneka rupa. 

Konsep keseimbangan menurut Anda bisa  jadi sangat berbeda dengan pemahaman saya. Paling sedikit, boleh jadi berbeda dalam definisi. 

Bagi saya, subyektivitas di atas makin menegaskan pentingya konsep keseimbangan dalam keseharian kita. Nyaris tidak mungkin membuang konsepsi keseimbangan dalam kerangka ini. Meski saya pernah baca, ada yang tidak percaya konsep keseimbangan ini !

And that’s OK for me

Batasan dan konteks bisa jadi membuat konsep keseimbangan kian samar. Namun dampaknya ternyata sedemikian jelas. Dampak yang saya maksud di sini adalah kala kita menempatkan keseimbangan pada satu kontinum di antara dua kutub.

Satu sisi ekstrem, saat keseimbangan  gagal diwujudkan, maka ia berdampak pada aspek fisik dan psikologis. Sederhana saja logika yang saya bawa. 

Saat makan Anda tidak diimbangi olah raga yang terukur, maka bersiaplah tubuh Anda menderita. Anda jadi rentan banyak penyakit.

Saat pekerjaan menyita sebagian besar waktu Anda, sementara Anda tidak punya jalan  katarsis, jalan penyaluran berupa kegiatan rekreasional, maka tidak heran jika emosi Anda tidak stabil. 

Bahkan ketika Anda kaya raya, sukses di jabatan puncak perusahaan ternama, itu semua tidak menjamin Anda jauh dari kegalauan. Keseimbangan bicara juga soal kebutuhan non material, kebutuhan spiritual 

Jika keseimbangan sedemikian, lalu apakah mungkin mencapai keseimbangan tersebut ?

Kabar baiknya, justru karena subyektivitas makna dan konteks, maka Anda memiliki daya untuk menciptakan keseimbangan  versi Anda sendiri, di tengah konteks yang Anda definisikan sendiri.

Maksudnya, bahkan ketika keseimbangan pada tingkat tertentu sudah Anda capai, Anda dapat menata ulang konsep keseimbangan Anda yang  baru di tengah perjalanan waktu yang berbeda. Dengan cara itulah justru Anda dan saya terus bertumbuh

Nah, bagian berikut dari tulisan ini akan mengantar Anda pada pengejaran keseimbangan itu. Pada tulisan berikutnya sejumlah opsi disediakan ke hadapan Anda. Opsi-opsi sederhana yang menjadi halte perhentian untuk menata kembali keseimbangan subyektif Anda. 

Selamat  datang  !

COACH ADJIE

Learning Enthusiast - Coaching Believer !

Coach Adjie adalah manusia multi dimensi dengan  multi peran. Tumbuh dan dimatangkan oleh pilihan sadar yang ia ambil. Berlatar keluarga sederhana, jalan takdir mengantarnya bertualang di banyak ruang.  

Sebagai  HR Practitioner, ia berkarya di sejumlah Multi National Companies (capaian yang dianggap tidak mungkin).  US Based Mining Company, German Based Chemical Manufacturing, Australi Based Packaging Industry dan Italy Based Automotive Big Brand 

Sebagai Coach, Trainer, Facilitator, Assessor ia membantu puluhan perusahaan dan organisasi. Membersamai ratusan kelas dan ribuan pembelajar untuk tumbuh bersama. 25 Tahun sudah dan akan terus berproses  untuk menjadi relevan di tengah perubahan ! 

Semua Artikel dan Materi dalam Web ini adalah pendapat & tanggung jawab penulis masing-masing. Pengelola situs hanya membantu melakukan checking atas tulisan yang ada dan mencegah masuknya tulisan yang mengandung unsur SARA